Pages

Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2015

Cantiknya kemisteriusan Candi Boko



Daya aura magis yang kental menambah eksotisme Candi Boko. Love it! ~Naya


Semangat nih nge-review sepotong perjalanan dari sebuah tempat karena beberapa komentar yang masuk di posting. Seneng yah rasanya ketika bisa berbagi informasi dan cerita. Nah untuk posting-an jalan-jalan kali ini, saya mau cerita tentang Candi Boko. Have you ever visited this place? Kalau belum, Let me tell you..

Saya pertama kali ke Candi Boko itu tahun 2012. Bersama tiga teman kantor. Tapi saat itu, kita gak terlalu menjelajah. Selain karena cuaca yang sangat menyengat, kita pun gak ada ide, apa sih menariknya Candi Boko.Suatu hari, saat sedang merencanakan perjalanan ke Yogyakarta bersama partner hidup saya, saya browsing tentang Candi Boko dan cerita-cerita menarik dibaliknya. Waw. Saya sempat nyesel dulu ke sana hanya sebatas ‘mampir’.

Saya kumpulkan banyak informasi dan meng-agenda-kan ke Candi Boko seharian penuh dan harus banget sampai ke setiap ujungnya. Cerita yang saya baca dari beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Boko  itu adalah sisa petilasan Ratu Boko (Ratu Bilqis) yaitu Ratu dari Kerajaan Saba. Ratu Bilqis ini kemudian mendengar tentang kehebatan dan kekayaan yang dimiliki Nabi Sulaiman. Lalu Ratu Boko pergi-lah ke Istana Nabi Sulaiman (disinyalir Candi Borobudur namun masih diperdebatkan dan diteliti ulang). 

Candi Boko in my mind

Wohoooo. Pengen banget nongkrong saat sunrise dan sunset di sana. Karena posisinya yang berada diatas bukit pasti kece banget nanti pemandangannya. Tapi sayang sekali saya gak berkesempatan untuk liat sunrise dan sunset. Gak apa, anggap aja bahwa itu artinya saya akan kembali kesana untuk menikmati muncul atau tenggelamnya Sang Matahari.

Shelter Van menuju Candi Boko

Sampai di Candi Prambanan sekitar jam 09.00 dan langsung menuju loket untuk membeli tiket terusan ke Candi Boko. Keren banget penataan Dinas Pariwisata Yogyakarta untuk menyiapkan akomodasi sedemikian nyamannya menuju Candi Boko. Karena dari Candi Prambanan ke Candi Boko memerlukan waktu sekitar 20 menit pake Van yang disediakan. Ada sekitar 5-8 yang siap mengantarkan kita ke Candi Boko.

Look! cantik..
Sesampainya di Candi Boko kita langsung disambut sengatan matahari. Namun karena posisinya diatas bukit, jadi terasa agak sejuk walaupun tetep pake payung. Saya langsung menuju ke bagian atas Candi Boko. Ada 2 bagian kolam. Saya langsung membayangkan bahwa jaman dahulu, para penghuni istana berendam sambil menikmati udara gunung yang sejuk. 

berasa dimanaa..
Lalu saya teruuuuuuus kebagian belakang yang disinyalir bagian pendopo. Lalu kamar-kamar mereka dimana ya? Misteri. Karena disana saya hanya melihat reruntuhan.

Belum puas dengan itu, saya langsung menuju gua diatas bukit lagi. Hem.. gua tempat semedi rupanya. Disini saya merasakan sesuatu yang lumayan bikin saya merinding dan sesak selama beberapa detik. Hufft. Ada yang berusaha say hello nampaknya. Tapi saya terus terkagum-kagum sama keindahan reruntuhan Candi Boko.
  

Gua yang bikin merinding ulala
Sekitar 60 menit menikmati suasana, berpeluh-peluh dan berpanas-panas. Jepret sana-sini. Lalu sampailah di warung. Menikmati mie rebus dan es kelapa muda. Beristirahat sejenak sambil sholat dan tiduran karena lumayan lama tadi puter-puterannya. 

Hai.. deer..

Aihh.. lalu ada rusa! Saya sempet say hi sama rusa-rusa cantik itu.
Setelah beristirahat selama kurang lebih 45 menit, kami pun turun untuk nunggu van yang akan mengembalikan kami ke Candi Prambanan. Eh tapi tunggu dulu, sayang rasanya untuk gak menikmati lunch diatas bukit dengan pemandangan Candi Prambanan. Duh, gak kenyang-kenyang apa yah tadi dah makan mie rebus dan es kelapa. Heuheuheu.

Penutup yang sempurna!
Wah.. seru banget perjalanan saat itu. Mari ke Candi Boko..
Untuk info lebiih lengkap tentang candi cantik ini, bisa cuss ke wikipedia ini



~Naya


 

Jumat, 20 Februari 2015

Taman Sari Yogyakarta, I'm in love



Yogyakarta itu seperti dessert, selalu manis ~Naya

Entah kenapa ada dua kota yang selalu saya rindukan dan saya gak pernah bosen dengan pesonanya. Bogor dan Yogyakrta. Seolah saya sudah sangat bersahabat sekali dengan atmospherenya. September tahun lalu, untuk kesekian kalinya saya menginjakkan kaki lagi di tanah Yogyakarta. Tapi ada satu tempat yang baru pertama kali saya kunjungi: Taman Sari. Apakah kalian sudah pernah kesana? Three words for Taman Sari from me: Excotic, Mysterious, Great Design! *eh jadi empat kata yah? Heuheuheu.


Kalau ada satu orang yang baik telah tiada ataupun masih ada yang ingin saya ajak minum teh, maka orang itu adalah Demang Tegis, seorang Portugis yang adalah arsitek dari Taman Sari ini. He’s so briliant! Karyanya mampu membuat saya cengo untuk beberapa saat dan tersedot dalam dimensi pada masa itu yaitu sekitar tahun 1765-1812. Yup, tahun pada saat bangunan indah itu digunakan.

Untuk cerita lengkap tentang Taman Sari ini bisa cekidot ke wikipedia Taman Sari aja yah. Biar lebih total informasinya, soalnya disini saya cuma mau pamer foto. Wkwkwkwk. Dan cerita dari sudut pandang saya saja ya.

Saya mengunjungi Taman Sari saat hari terakhir dari honeymoon trip saya. Sisa-sisa tenaga udah jangan ditanya deh. Cape banget. Tapi entah kenapa, saat memasuki kompleks taman air ini saya langsung sumringah dan excited banget. Seolah kedatangan saya sudah sangat ditunggu.

Saya dan suami langsung menuju loket, membeli karcis tentunya dan meminta seorang guide. Memang, di Taman Sari ini disediakan pemandu karena sayang banget kalau cuma lihat-lihat bangunannya tanpa tahu sejarah dibalik itu semua #tsaaah

Seorang bapak paruh baya langsung memperkenalkan diri sebagaaiii... (lupa namanya) sebuat saja Bapak Baik Hati ya, karena he’s nice. Langsunglah diajak berkeliling dan Bapak Baik Hati itu memang sangat piawai menceritakan semuanya sehingga saya benar-benar terkagum-kagum lagi dan lagi oleh Taman Sari.

Well, picture tells thousand words. So check this out!
tempat melempar bunga untuk selir
kolam private Raja dan selir


Ada tiga kolam pemandian. satu, untuk tempat mandi para keluarga raja. Kolam kedua, untuk para selir. Nah dari lantai tiga ini, Raja melemparkan bunga kepada selir yang tengah mandi yang ia suka. Itu seperti sebuah sinyal bahwa Raja kesengsem sama selir tersebut.  Setelah itu selir yang terkena lemparan bunga pindah ke kolam kecil, tempat khusus pemandian bersama Raja. Hehehe. Gimanaaa gitu ya Para Raja jaman dahulu kala itu.


Ini bukan Raja dan selir nya :p
Jaman dulu pun sudah ada sauna. Dibawahnya dinyalakan kayu bakar. Lalu Raja dan para selir duduk-duduk diatasnya.
Disini pun ada tempat ganti baju dan bilas deperti di kolam renang umum. Tapi semua tertata rapi. Oh iya, semua pintu di Taman Sari ini umumnya pendek-pendek. Jadi kita kalau mau masuk harus menunduk-menunduk. Kata Bapak Yang Baik Hati, itu simbol bahwa kita harus selalu membumi. 


Ada galeri lukisan di dalam kompleks Taman Sari ini. Harganya sekitar 100 ribu-2 juta. Tawar aja setengah harga. Bisa ditawar. Hehehe


Dulu, Taman Sari ini sebenarnya tempat persembunyian sekaligus pelarian kalau ada serangan dari penjajah. Jadi, seolah ini hanya taman air padahal banyak pintu rahasia yang menghubungkan tempat ini ke Pantai Selatan.



Konon di lorong inilah tempat pertemuan Ratu Nyi Roro Kidul dan Sultan.


Nah ini tjakep kali. Ini tuh tempat wudhu, terus ada tangga lima sebagai simbol rukun islam. Lima.

Bapak Baik Hati itu pandai banget deh ngasih spot kita untuk berfoto. 

Akhirnya setelah berkeliling selama hampir satu setengah jam, usai sudah waktu saya di Taman Sari ini. Saya cukup betah disini walaupun aura magisnya terasa sangat tinggi ya. Hawa-hawa dingin gimana gitu walaupun udara Yogyakarta sedang panas menyengat.

So, kalau ke Yogyakarta jangan kelewat mampir kesini ya..



~Naya 

Sabtu, 24 Januari 2015

cerita temen: my first Europe Travelling (Part 2)



Mari kita lanjutkan... setelah tadi pusing-pusing ngurus ini-itu, mari kita heppy-heppy disini. Yuhuuu.. aku punya beberapa saudara di Jerman, Frankfurt. Jadi yah asik banget. Tapi yang paling sedih pergi liburan gak sama temen dari negara yang sama itu gak ada partner norak-norak-an disana. Hahaha. 


German, Belgium, Turkey, Holland


Nah disini aku cuma bisa cerita banyak tentang Istambul (Turki) dan Volendam (Belanda) karena justru aku lama menginap di Turki, Turki keren banget dan Volendam is awesome. Ke Belgia cuma city sightseeing.


Istambul, Turkey.


Turkey is very nice. Aku ikut tour ke Turki ini dari Jerman, karena kalau pergi sendiri pasti gak tau tempat-tempat keren. Tour paket wisata nya sekitar tiga juta (lupa tepatnya karena dibayarin saudara. hihihi)  satu bus sama orang-orang yang gak aku kenal, di Turki 3 hari 2 malam. Awalnya aku pikir Turki itu Negara timur Tengah loh, bukan Eropa. Hehehe. 


Banyak bangunan keren yang dulunya gereja sekarang jadi mesjid. Yang paling terkenal itu mesjid Hagia Sonia. Ada pengalaman menarik ketika di mesjid Hagia Sonia, ada Bapak-bapak keturunan Arab, dia tiba-tiba manggil aku, cuma aku yang dipanggil, padahal kan aku kesana sama rombongan, Bapak-bapak itu ngasih roti dan teh. Aku minum teh nya, roti nya juga aku makan. Kenapa ya he did that?


(Ihihihi. Aku coba bantu jelaskan ya bu, itu seperti katanya kalau di Mekkah-Madinah pun banyak yang memberikan teh dan makanan kecil secara gratis ke orang-orang. Mereka sedang berlomba-lomba dalam kebaikan. Serving people dengan apa saja yang mereka punya. Kalau di Bandung, ada mesjid di Jalan Aceh yang menyediakan minuman; teh dan kopi secara gratis bagi pengunjung mesjid).


Waktu aku kesana lagi dingin, tapi aku tetep mandi. Walaupun udahnya dingin banget karena biasanya justru orang-orang sono jarang mandi kalau lagi musim dingin (saving water mungkin, bu. Go Green. Hehehe). Harga hotel di sana murah-murah sekitar 40 Euro atau empat ratus ribuan. Di Turki, bahasa yang dipakai di tempat wisata itu ada tiga; Jerman, Turki dan Inggris. Banyak orang Jerman yang menikah dengan orang Turki dan masuk Islam.


Orang-orang sana minum wine untuk menghangatkan tubuh mereka, ada red or white wine. Tapi aku gak suka banget wine. Gak enak rasanya. Perutku kembung. Aku minta air putih aja dan air putih kemasan disana cukup mahal loh. Hal menarik lainnya adalah ya ampuuun, anggur ijo cuma satu Euro per kilo. Rasanya kalau aku langsung pulang ke Indonesia, pengen borong. Makan angur ijo yang disini mahal itu kayak makan kacang. Hehehe. Asik banget ituuu (bisa gak yah barter anggur sama kacang kira-kira?).


Volandam, Holland.


Aku juga suka banget Volandam, keren banget.  Di Volendam, turis bisa berfoto ria dengan pakaian tradisional Belanda (Burin) lengkap dengan aksesorisnya. Banyak studio-studio yang menawarkan jasa pemotretan untuk para turis. Kalau mau berfoto sendiri, harganya sekitar 12 Euro (Rp 153 ribu). Volendam gak hanya terkenal dengan pamandangan laut yang indah dan tempat turis untuk berfoto pakaian tradisional. Di dekat kota ini juga ada tempat yang dikenal dengan pabrik keju Edam dan pusat pembuatan sendal kayu khas Belanda, Klompen. 


Segitu aja yah ceritanya... masih kepengen lagi ke Eropa suatu hari nanti. Doakan Ya. Pulang ke Jakarta transit di Abu Dhabi lebih lama dari waktu keberangkatan. Sendirian pulak. Hiks. But it was wonderful journey. Thanks for listening (Yaeya lah buuuu.. pasti wonderful one, Eropah gitu loooh. Hehe).

<< Tamat.

Thanks ya Bu tres untuk sharing nya.. jadi kebayang nih sedikit pengurusan visa itu untuk aku yang sangat awam sekali :D informasi-informasi lainnya nya juga  berguna banget. Dikarenakan waktu pertemuan yang terbatas, saya gak sempet denger cerita tentang Jerman nya. Maybe next time saya wawancara (maksa) lagi beliau ya. Hehehe.
Dan saya memutuskan the quote of dua artikel tentang jalan jalan ke Eropa ini adalah:
“GAK ENAK BANGET TERBANG (KE EROPA) SENDIRIAN.” Hahahaha. Noted!  

cerita temen: my first Europe travelling (Part 1)



Pernah gak kepikiran pergi ke EROPA untuk jalan-jalan just to be alone?? Oh... awesome-tapi-agak-sangat-berani. Aku gak berani soalnya. Heuheu. Walaupun di Eropa, tepatnya Jerman, banyak sodara nya, teteup aja keren ngurus segala sesuatu-nya sendirian dia adalah Ibu Theresia! Woohooo.. She’s cool.
Dan saya berhasil (memaksa) beliau untuk menceritakan pengalamannya. For me, untuk menebarkan energi positif agar kita bisa travelling, salah satunya dengan mendengarkan pengalaman orang ber-travelling.  Itu ngasih semangat bahwa one day kita harus bisa menginjakkan kaki di tanah yang sama, yang pernah mereka injak :D Be optimistic. 

Sore yang mendung  tapi saya semangat banget buat ketemuan sama Ibu Tres, aseeekk rencananya sekalian mau ditraktir Iga Bakar Grand Setiabudi (Aseli, ngangenin banget nih Iga Bakar nyaa..) dan juga saya pengen banget ngobrol soal pengalaman liburan beliau ke Empat negara Eropa Akhir Oktober 2012 lalu. 
Here’s her story.. (Penuturan bu Tres pada saya)

Aku ke Eropa, Ke Jerman tepatnya, sendirian loh. Anak aku gak mau diajak (Ajak aku aja, Bundaaa). Persiapan pengurusan visa aku lakukan 2 bulan sebelumnya. Aku browsing aja semua informasi yang kubutuhkan, cara pengajuan visa terus booking tiket pesawat. Dan ternyata kalau mau ngajuin visa sendiri itu salah satu syarat utamanya adalah menyertakan bukti booking tiket pesawat. Aku telpon deh salah satu Tours and Travel yang ada di daerah Jalan Pasar Kaliki untuk booking tiket pesawat. Aku bilang sama Travel Agency nya bahwa aku mau booking pesawat ke Frankfurt, Jerman sekaligus mau bikin permohonan visa-nya.


Pendaftaran permohonan Visa lewat online, setelah pihak Kedubes memberikan konfirmasi tanggal berapa aku kesana, baru aku pergi ke Kedubes Jerman. Kita gak akan diijinkan masuk ke Kedubes tanpa appointment konfirmasi dari mereka.

Kucluk-kucluk lah aku ke Kedubes Jerman dianter Mama-ku. Kasian loh mama nunggu di luar yang akhirnya nunggu di taman, karena memang yang boleh masuk hanya orang-orang yang berkepentingan, yang nganter nunggu di luar. Mana ga ada kursi untuk nunggu nya pula (Pesan: Gak usah di anter kalo mau ngurus visa karena si penganter kasian ntar nasib nya). Pengamanannya cukup ketat, tas disimpan di loker, Handphone di sekurity. 

Setelah nunggu, memberikan syarat-syarat berkas, and TADAAA.. foto aku salah. Bukan salah tapi kurang sesuai sama apa yang di minta Kedubes Jerman. Aku memang foto di salah satu studio foto Bandung tapi perasaan sih udah ngikutin syarat-syarat tentang foto. Tingkat keakurasian foto nya masih kurang, karena Kedubes Jerman butuh foto Close Up yang bener-bener detail. Akhirnya aku di suggest untuk foto di studio foto deket-deket Kedubes. Disana kan udah tau banget apa keinginan Kedubes Jerman. Fiuh.

Setelah foto, masih harus nunggu karena banyak banget ya yang minta visa permohonan ke Jerman. Terus di Interview, mau apa ke Jerman? Ada undangan dari orang disana ga? Karena kalau gak ada, kita harus punya deposit rekening tabungan 3 bulan terakhir kan di lampirkan juga. Itu untuk menghindari kalau-kalau kita terkatung-katung disana dan memastikan bahwa kita punya duit cukup selama hidup disana. Hahaha. Tapi karena aku punya saudara yang bikin undangan ke Kedubes Indonesia atas nama aku, jadi ya memudahkan.

perhatian

Setelah proses yang cukup menguras energi di kedubes; Nunggu-disuruh foto karena foto kurang detail as their request-foto dulu, tempatnya lumayan jauh-nunggu lagi-ngasih berkas-interview, dan akhirnya Pihak Kedubes memberikan tanggal untuk pengambilan visa. Semua-semua mereka yang tentuin. Oya, karena Jerman termasuk salah satu negara yang masuk dalam anggota Schengen Visa, maka aku bisa masuk ke hampir 26 negara dengan hanya satu visa. Negara-negara besar di Eropa kecuali Inggris. Visa wisata lamanya 12 hari dan pastikan semua sudah fix sesuai tanggal visa. Kalau gak, gak mau di deportasi kan? :D

Dan Yes, Visa-ku keluar. Eropa, I’m comiiiiing. Setelah Visa keluar, baru aku konfirmasi ulang travel untuk memastikan tiket pesawat. Konfirmasi by phone, saat itu aku tanya lagi apakah ada tiket yang lebih murah? Ada pilihan tiga Airlines: Emirates, Etihad, dan Qatar. Ada diskon menarik dari Etihad, totally US Dollar 1000 untuk tiket pulang pergi Jakarta-Frankfurt. Aku said yes, transfer, then went to travel untuk ambil bukti tiketnya hari itu juga. Gak sabar pokonya ke sana, Wkwkwk.

Tibalah hari yang dinanti. Berangkaaaaat. Total perjalanan 18 jam, termasuk transit di Abu Dhabi kurang lebih 3 jam. Itu pertama kali nya aku ke luar negeri dan sendiri pula. Gak enak banget rasanya terbang sendiri. Hahaha. (Tuh kan buuu.. makanya ntar mah ajak aku yaaa :D )
Transit di abu Dhabi, di tanya-tanya petugas imigrasi yang menurut versi aku lumayan nyeremin, trus mereka sepertinya memang agak-agak sensitif sama tourist dari Indonesia. Entah kenapa. Serem lah pokonya. Mana aku sendiri kan yah. (Ya ampun, Ibuuuu... itu mah nyeremin banget). Lolos Petugas imigrasi di Abu Dhabi, then still waiting around 3 hours for next flight. Tak sabar rasanyooo menginjakkan kaki di tanah Jerman...

<<continue ya.  ke Part 2