Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita kalian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita kalian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

Ketika kematian tak bisa diduga


Masih menjadi misteri, apakah sore hari nanti kita dan pasangan masih bisa saling menatap dan memeluk? ~Naya


Sore ini saya mendengar satu kisah tentang kehilangan. Bukan kehilangan karena ingin, tapi ‘dipaksa’. Orang terkasih direnggut dari sisi. Selama-lamanya.
***
Siang itu, 9 Februari 2015, ada telepon dari kepolisian ke Handphone Mbak Hani. Telepon yang mengabarkan bahwa suami tercintanya mengalami kecelakaan di Tol Jagorawi km 24. Atasan Mbak Hani meminta beberapa rekan untuk kroscek ke akun twitter TMC. Akun yang biasanya menginformasikan mengenai berita kecelakaan wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Dan memang ada info kecelakaan tersebut, nomor polisinya pun sesuai dengan nomor polisi kendaraan suami Mbak Hani. Masih ragu dan takut penipuan, atasan Mbak Hani menelepon no hp polisi yang menghubungi Mbak Hani. Kabar mengejutkan disampaikan lagi bahwa korban (suami Mbak Hani) tewas seketika. Inalillahi...

Mbak Hani dan beberapa rekan langsung menuju tempat yang dikatakan polisi tempat jenazah berada. Ya, suaminya telah terbujur kaku. Kecelakaan tunggal. Polisi mengatakan kalau korban dalam keadaan mengantuk dan terlelap sepersekian detik, mobil oleng dan korban membanting stir ke arah kiri, menabrak pohon. Keadaan diperparah karena korban tidak memakai sabuk pengaman.

Mbak Hani mempunyai bayi berusia 6 bulan, bayi perempuan. Bayi cantik itu sudah harus kehilangan ayahnya. Atasan Mbak Hani bilang bahwa sabtu itu, Alm menjemput Mbak hani dan berkenalan dengan rekan kerja Mbak Hani, termasuk atasan Mbak Hani. Seperti pertanda ingin dibantu mengurus jenazahnya karena Mbak Hani tinggal di Bogor tanpa sanak saudara.  Seluruh keluarga tinggal di Jawa Tengah. Pertanda lainnya, Mbak Hani telah mengajukan cuti 7 hari pada tanggal 14 Februari ini untuk pulang ke Jawa. Ternyata memang Mbak Hani harus pulang ke Jawa Tengah selama 7 hari. 

Kejadiannya, Alm berangkat kerja ke Jakarta namun kembali lagi pulang ternyata kantor diliburkan karena banjir. Saat perjalanan pulang itu mengalami kecelakaan. Alm pun sempat menelepon istrinya untuk bilang: “Aku mau pulang.” Dan ternyata memang pulang yang sebenar-benarnya. Setelah dibantu oleh beberapa rekan untuk mengurusi ambulans dan surat dari kepolisian, malam itu juga Mbak Hani dan bayinya berangkat ke Jawa Tengah untuk mengantarkan jenazah suaminya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
***
Entah kenapa tiba-tiba terbersit beberapa hal yang seringkali saya abaikan. Salah satunya, melepas kepergian suami berangkat kerja saat saya sibuk melakukan sesuatu.

Mungkin itu juga yang seringkali suami saya sampaikan. Katanya: ”Jangan marahan lebih dari waktu sholat selanjutnya, ya.” Maksudnya adalah misalnya kalau kita marahan jam 2 siang, nah sebelum ashar itu kita harus sudah baikan lagi. Karena ini berkaitan dengan kita tidak tahu kapan kita akan meregang nyawa. Siapapun tidak akan pernah mau jika dipisahkan dalam keadaan kita saling kesal satu sama lain.

Dan mungkin juga, karena itulah ketika istri mengantar suaminya bekerja, seolah seperti melepas seseorang untuk berperang. Masih menjadi misteri, apakah sore hari nanti kita dan pasangan masih bisa saling menatap dan memeluk?



~Naya

Jumat, 23 Januari 2015

Puisi: Tak Apa, Bunda


Tak apa, Bunda..

Hai Bunda, aku selalu suka senyum mu.
Hai wanita paling cantik, pelukmu tenangkan ku.
Kenapa?
Tak ada lagi senyum itu.
Juga peluk mu.

Marahkah padaku, Bunda sayang?
Pasti karena aku nakal ya? atau rewel.
Bunda, aku minta maaf kalau Bunda pusing karena aku.

Tak apa, Bunda.
Kata Tuhan, aku jangan ganggu Bunda.
Itu juga yang ku takut kan.
Mengganggumu, Bunda.

Maka aku pergi boleh ya, Bunda.
Ada Tuhan jaga aku.
Tak usah khawatirkan aku.
Tak apa, Bunda.

Aku ingin melihatmu tersenyum lagi
Lalu doa mu jadi peluk terhangat di angkasa.
Tak apa, Bunda.
Ada Tuhan jaga aku sekarang.
Aku sayang Bunda.

Minggu, 18 Januari 2015

Surat Untuk Dia



Surat ini kutulis teruntuk seorang wanita disana, yang sedang merajut rindu untuk lelakinya, lelaki yang sama dengan lelaki yang kurindukan juga disini.



Selamat pagi,

Aku hanya mengenal kamu dari sedikit cerita dan pernah beberapa kali melihat fotomu menggendong anak kalian yang tampan itu. Ijinkan aku menuliskan surat ini. Surat yang mungkin takkan pernah sampai ditanganmu, namun aku selalu berharap bahwa langit akan berbaik hati membisikannya padamu suatu saat nanti.

Kamu wanita yang baik, aku yakin itu. Mungkin bukan wanita yang selalu menghujani lelakimu itu dengan berbagai perhatian, kamu juga bukan wanita yang romantis seperti aku. Kamu mungkin bukan tipe seperti itu tapi entah mengapa aku yakin kamu wanita yang baik, sangat baik.

Kamu tahu, bahwa di dunia ini tak ada kejadian yang kebetulan belaka? Segala sesuatu sudah beredar sesuai dengan garis edarnya, seperti planet-planet yang setia menyusuri orbit-orbitnya. Apakah kamu percaya itu seyakin aku akan hal itu? Pertemuan dengan seseorang ataupun kejadian demi kejadian yang dialami, apakah itu suatu hal yang terjadi begitu saja? Tentu tidak, bukan? Ada yang Maha Mengatur.
 Tujuan aku menulis ini pun ingin sekali menyampaikan bahwa siapapun termasuk aku tidak ada yang mengharapkan banyak kejadian-kejadian dalam hidup aku yang harus melibatkan lelakimu itu. Aku tidak pernah berharap hal ini terjadi. Sungguh.

Aku berusaha untuk mengakhiri nya sejak berbulan-bulan yang lalu, namun entah kenapa, kami berdua seperti terjaring, tak bisa benar-benar saling melepaskan. Ada sesuatu hal yang membuat kami saling tarik-menarik sama seperti dua kutub yang berlawan, tak bisa pisah.
Ini bukan hanya perkara siapa yang mengejar atau siapa yang dikejar. Bukan perkara sesederhana seperti itu.  Ini juga bukan kisah percintaan penuh romantisme picisan yang sebentar hilang, sebentar datang. Mungkin ini lebih dari itu, ini tentang kebermaknaan.
Apabila dua manusia yang sedang bersama menemukan makna dalam kebersamaannya, mereka akan punya alasan sangat kuat untuk terus bersama. Itulah kebermaknaan. Sesuatu itu menjadi bermakna apabila sesuatu itu memang penting dan berharga bagi diri kita.
Kami selalu bisa membicarakan hal apa saja, apapun itu akan terasa seru dan menarik  untuk diperbincangkan, kami saling “jatuh cinta” dengan cara bertutur, dengan cara kami mendiskusikan suatu hal, dengan cara kami saling mendengar dan bercerita.
Maaf, tapi itulah yang terjadi.

Itulah yang sesungguhnya terjadi. Bahkan sejak agustus tahun lalu, aku berusaha untuk tidak bertemu dengannya. Aku memutuskan untuk menahan diriku untuk bertemu dengan lelakimu itu. Biarlah seperti ini. Aku tahu, lelakimu berusaha untuk tidak melakukan kontak fisik apapun denganku, itu yang perlu kamu tahu.

Mungkin kamu sudah muak membacanya, kan? Mungkin juga kamu tidak ingin tahu apa-apa lagi. Baiklah. Tapi tetap akan aku jelaskan semuanya.

Kamu pasti sedih dan kecewa karena mendengar bahwa lelakimu itu punya banyak hubungan dengan beberapa perempuan selain aku. Aku sudah cukup banyak tahu soal itu. Namun, sekali lagi, apapun yang lelakimu itu lakukan diluar sana, tidak akan menjadi urusanku. Terkadang hal-hal yang kudengar itu sempat mengaduk-aduk perasaanku, namun lagi-lagi aku tersadar bahwa aku hanya menghargai apa-apa yang dia lakukan dan kami lakukan selama ini. Itu berbeda dengan sesuatu diluar sana, mungkin. Namun pasti itu tetap menyakitimu, maaf.

Dear kamu, wanita yang ingin sekali aku temui,
Rasa-rasanya, ini sangat tak adil bagimu. Sungguh ini sangat tak adil. Bagaimanapun, aku menyukai kebersamaan dengan lelakimu. Ini salah dan seharusnya tak pernah terjadi.

Aku tak akan meminta untuk dimengerti ataupun dimaafkan, tapi tolong percaya bahwa aku pun berusaha untuk selalu mengakhiri semua ini. Bagaimanapun, kita sama bahwa kita wanita, seharusnya aku bisa lebih memahami perasaanmu bukan terus menikam perasaanmu detik demi detik.

Andai kamu tahu, aku pun tak pernah meminta menemukan kepingan yang membuat puzzle aku utuh pada diri lelakimu. Ini tidak sengaja, walau Tuhan yang pastinya sengaja mempertemukan kami. Walau dengan cara dan di waktu yang tak pernah kami mengerti.

Aku selalu berdoa, semoga dia, lelakimu itu tak pernah menghubungiku lagi karena dengan begitu tentu saja aku takkan pernah mencarinya dan itu berarti ini selesai. Tapi kamu tahu, bahwa sulit sekali untuk aku untuk mendorongnya pergi ketika dia ada dihadapanku. Lelakimu itu terlalu istimewa. Maaf. Aku mohon maaf atas kelancanganku memujinya dan mengatakannya padamu.

Dear kamu, wanita yang sangat aku hormati
Aku masih tidak tahu dengan takdir dan dengan hal yang akan terjadi esok. Itu semua masih misteri kan untuk kita. Namun, aku selalu berdoa bahwa itu semua baik untuk kita; kamu, aku dan lelakimu. Apapun itu. Mungkin kita tidak akan pernah mengerti hal ini sekarang, tapi suatu saat nanti kita pasti akan mengerti. Aku yakin itu. Pemahaman dan penerimaan akan beriringan mendekati kita pada saat yang tepat sehingga kita bisa melihat hal ini dari sisi lain yang mungkin belum mampu kita jangkau saat ini.
Namun, aku mohon. Maafkan aku. Menyakitimu sedemikian dalam. Aku benar-benar minta maaf. Kamu wanita yang baik dan tak seharusnya siapapun menyakitimu termasuk aku. Aku memang bodoh dan tak berperasaan.




Dari aku,

Wanita yang mengagumi lelakimu

Minggu, 25 Mei 2014

cinta (seharusnya) sederhana



Cinta (seharusnya) sederhana

Kehilangan seseorang yang menemani berbincang. Berbincang tentang apa saja. Dari mulai masalah pekerjaan, politik, sejarah bahkan hal-hal gak penting sekalipun. Selalu merasa bahwa mungkin Tuhan sedang bercanda ketika mempertemukan kita. Kita bertemu disaat yang sangat tidak tepat.
***
Baru menemukan seseorang yang begitu antusias ketika aku bercerita. Kamu tahu, apa bedanya mendengar dan mendengarkan? Yang kedua, selalu bisa membuat cerita mengalir lancar bahkan deras, tak dapat ditampung seakan-akan topik pembicaraan tak pernah habis. Selalu saja banyak hal menarik yang kita bisa bicarakan.
Ah, dalam kasus ini sepertinya aku terlalu sentimental. Terlalu ‘memperbuas’ perasaan. Tapi tahukah kamu, hanya dengan kamu aku selalu merasa didengarkan. Ya, karena kamu selalu mendengarkan aku.
***
Tidak mudah menjadi seorang Introvert yang Intuitif. Baiklah, istilah itu pun kudapatkan darimu. Kamu yang ‘menemukan’ bahwa aku terlahir unik, kamu yang bilang aku tidak biasa dan sangat istimewa. Dan aku hanya ternganga ketika kamu menyebutkan satu persatu tentang ciri-ciri kepribadian yang sangat sama persis denganku, yang bahkan aku sendiri baru tersadar bahwa itu sangat aku sekali.
Kamu menjerit-jerit girang saat kamu bisa mencocokkan ciri-ciri kepribadian itu dengan diriku. Seperti anak kecil yang sangat kegirangan menemukan harta karun yang dikubur di halaman belakang rumah. Katamu, tipe kepribadian yang aku miliki termasuk langka. Hahaha. Populasi nya hanya satu koma sekian di dunia. Itu kamu ceritakan saat baru menghadiri training tentang kepribadian. Lagi-lagi, aku sangat suka kamu yang selalu berbagi hal baru yang kamu ketahui. Cocok denganku yang juga selalu suka hal-hal baru. Sungguh, rupanya Tuhan sedang bercanda dengan kita saat itu.
***
Semuanya terekam dengan baik di kepalaku. Mungkin tidak sama persis dengan perkataanmu, tapi masih dapat kuingat jelas kamu menyemangatiku banyak hal, sungguh banyak hal. Dari mulai Venetia, mengajar Bahasa Inggris, menulis novel sampai menulis kumpulan quotes untuk anak-anakku kelak. Itu banyak sekali.
***
Kamu menggenapiku.
***
Sesekali, kupejamkan mata ini untuk beberapa detik, dan kamu ada disana. Tersenyum.
Tuhan hanya meminjami kamu. Tuhan hanya ingin lewat kamu-lah aku mengerti banyak hal dalam diri aku. Tuhan ternyata tidak bercanda ketika mempertemukan kita. Tuhan Maha Baik ya, berkenan mengenalkan kamu padaku walaupun pada waktu yang menurut aku kurang tepat.
***
Lalu sekarang masih patutkah aku berduka karena masa pinjam-mu sudah habis? Masih patutkah aku melenguh dan melipir bergelung sedih di pojok ruangan? Meratapi dan melepas kamu yang memang bukan sesuatu yang harus aku pertahankan? Karena tidak mungkin seseorang mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas bukan milikknya. 
***
Kita punya amunisi yang hebat dalam setiap percakapan. Kamu mungkin tidak menyadarinya. Amunisi itu merupakan sesuatu yang meledak-ledakkan dialog kita menjadi sesuatu yang seru, selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Amunisi itu memberikan percikan-percikan yang mampu menghangatkan sudut-sudut kekeringan di relung jiwa kita. Tahukah kamu apa amunisi itu? Amunisi itu bernama: Rindu.
***
Aku rindu percakapan-percakapan kita. Selalu rindu. Aku rindu pertemuan kita yang hanya enam kali itu. Hanya enam kali dalam tiga tahun terakhir ini.
***
Belum genap satu bulan. Waktu itu 16 Maret dan sekarang baru 13 April, tapi rasanya sudah berbulan-bulan tak bercakap-cakap denganmu, ya. Tapi kurasa aku bisa melewatinya. Ya aku harus bisa. Waktu kan yang menyembuhkan segalanya? Cuma waktu juga yang membuat segala yang terlihat tak mungkin menjadi mungkin. Iya, aku cuma perlu waktu sedikit lagi. Sedikit saja.
***
Sekarang, pada siapa lagi aku bisa bercerita tentang hujan?
Pesan itu aku kirimkan padamu tiga hari yang lalu. Lalu aku ganti sim-card ku. Aku tak tahu apakah kamu membalasnya atau tidak. Kamu memang tak perlu membalasnya. Kamu hanya perlu tahu bahwa tak ada pendengar yang sebaik kamu. Kamu juga harus tahu bahwa celotehan-celotehan aku yang terkadang aneh atau tak lazim, menurutmu sangat menarik. Itu setidaknya menurutku. Kenapa aku tahu menurutmu itu menarik? Karena kamu selalu menanggapi dengan serius, tak jarang besok-besok kamu sengaja googling apa saja yang baru aku utarakan, lalu besok-besok itu, kamu membahas lagi dan aku hanya bisa tertawa gembira mendapatkan partner diskusi yang akhirnya bisa juga bisa membahas hal-hal aneh atau tak lazim-ku.
***
Aku kehilangan kamu. Kehilangan yang teramat sangat
***
Kalau saat ini kamu masih mau berbicara denganku, membahas kenapa aku tiba-tiba memutuskan menghilang dari kehidupanmu, itupun kalau kamu masih mau mendengarkan, aku ingin bicara banyak sekali.
Kamu tahu, entah kenapa aku selalu merasa bahwa kamu baik-baik saja dengan keadaan sekarang, tapi tidak denganku. Kamu masih suka ingat aku, namun lalu kamu merasa sudahlah, tak perlu dipikirkan.
Kamu pun diam-diam merindukan percakapan-percakapan seru kita. Aku merasakannya. Namun, kamu pun merasa  tak perlu pusing-pusing memikirkan aku yang sudah sangat sering menghilang darimu. Lalu muncul lagi suatu hari.
Dan entah kenapa, aku merasa kamu sudah punya “seseorang” yang lain, tapi aku tahu tetap tak ada yang se-absurd aku, kan? Kamu hanya merasakan kehilangan obrolan yang menarik, bukan sosok aku.
Dan aku percaya intuisi ini. Aku percaya apa yang kurasakan ini, sama persis dengan yang kamu rasakan detik ini.
***
Jadi kurasa, semuanya sudah selesai sampai titik ini. Kamu hanya akan menjadi kenangan. Kamu hanya akan menjadi tokoh dalam cerpen-ku kali ini.
***
Aku rasa, sudah saatnya kita mencoba memperbaiki hubungan yang memang semestinya. Aku aka kembali pada ‘dia’, lelaki yang mempersunting aku lima tahun lalu. Lelaki yang kusebut suami. Dan semoga tanpa aku, kamu pun bisa mempunyai hubungan yang lebih baik dengan istrimu.  
***
Karena baru-baru ini aku membaca sebuah kutipan dari penulis favorit aku. Dia bilang:  Cinta itu sederhana. Jika rumit, itu bukan cinta. Cinta itu tak pernah salah, jika salah itu tentu bukan cinta. As simple as that.
Dan yang terjadi pada kita, nyata-nyata bahwa cinta kita tidak pernah bisa menjadi sederhana dan memang rumit. Cinta kita juga salah. Jadi, aku pikir yang terjadi antara aku dan kamu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Itu kesimpulanku, semoga kamu paham.
***
Kamar.
25 Mei 2014
01:04

Jumat, 03 Januari 2014

Tuan Lelaki Tak Bernama


Hai.
Aku bingung harus memanggilmu apa. Ah sudahlah, mungkin tak terlalu penting juga buatmu.
Di usiaku yg 24 tahun, bisa terhitung sudah berapa kali dalam hidupku bertemu denganmu. Bisa dihitung jari. Bahkan jari sebelah tangan. Tak perlu keduanya.

Anak lain seusiaku tentu berbeda. Bertemu dengan lelaki yang mereka cinta, tak terhitung. Bisa jadi 365 hari dikalikan 24. Silahkan hitung jadi berapa hari. Ya, karena seorang anak bertemu dengan lelaki yang dicintainya, ayahnya, setiap hari tidak terdengar aneh, bukan? walau cukup aneh untukku.
Anak bertemu dengan lelaki yang dicintainya, ayahnya. Cinta? Cintakah aku padamu? Memanggil kamu saja aku kebingungan. Apalagi memikirkan soal apakah aku mencintaimu atau tidak. Bingunglah aku. Aku memanggil lelaki tak bernama saja, ya. 

Tuan Lelaki Tak Bernama. Itu terdengar lebih keren, bukan? Karena panggilan Ayah, Bapak, Papah, Abi, atau entah apa lagi macamnya, hanya ditujukan bagi dia, seseorang yang punya makna, punya kontribusi terhadap kelangsungan hidup aku, punya arti.

Lebih cocok ditujukan pula bagi dia, yang seharusnya mengumandangkan adzan di telinga kananku saat aku lahir.

Lebih cocok pula bagi dia, yang mengantarkan aku ke sekolah untuk pertama kalinya, membantu menenangkan aku ketika grogi di hari pertama sekolah. Dan kamu, sudah melakukan apa untukku, Tuan Lelaki Tak Bernama?
Tak ada.

Sungguh tak ada selain memberikan darahmu yang mengalir deras di tubuhku sekarang. Ya, darah kita sama. Tentu saja sama. Darah yang mengalir di tubuhku sama dengan darahmu.
Kamu memang memberi aku kesempatan hidup di dunia ini, Tuan Lelaki Tak Bernama. Tapi, kamu tak memberi kehidupan itu sendiri padaku.


Dari Aku,
Seseorang yang kau aliri darahmu.


Percakapan dengan seorang teman. Di sabtu senja sambil menikmati Pancake dan Kopi. Terimakasih sudah berbagi.

Senin, 16 September 2013

adore his mom as well

17 September 2013
11 : 15


bukannya kerja, malah posting blog. 
Ide tiba2 banyak, Pak ESTJ-ku...
Wkwkwkwk :D

Ngirim berkotak-kotak donat pas ulang taun ke ex-kantor nya adalah perbuatan yang sangat manis.
Buat sebagian orang, mungkin gini kira-kira komentarnya:
"apa sih, biasa ajalah." 
Atau
"ya mau ngasi aja kali."
Atau
"ah nothing special."
Tapi buat aku:
"That's really nice. Sure."

Apa yah. Entah aku yang baru nemu ada lelaki yang se-care itu, se-peduli itu, atau entah aku nya yang emang HSP sejati, INFJ tulen jadi buat aku itu hal yang so touchy banget. Entah apapun itu alasannya;
I adore him.

Mungkin sosok yang saat ini pengen aku kenal adalah Umi-nya.
Ibu-nya.
Belajar banyak dari beliau. How to raise him up?
Soalnya pernah baca di suatu kutipan: 



seorang lelaki yang memperlakukan wanita-nya seperti seorang puteri adalah bukti bahwa dia dilahirkan dan dibesarkan dari tangan seorang ratu
bukan memperlakukan wanita-nya aja kayak princess tapi memperlakukan semua orang juga dengan sangat baik dan manis.
So, I adore his mom as well.

Dear Umi,
Even we don't know each other but I am very sure 
that you are an amazing woman. 
May Allah S.W.T always blesses Umi, yah. Aamiin. 









Sabtu, 13 Juli 2013

Suatu senja di Bukit Kecil



 Suatu senja di Bukit Kecil.

Angin membelai kulit kita. Saat ini angin memperlakukan kita sangat mesra.  Kau menatap mataku.  Begitu dalam. Aku tersenyum, kata kamu senyumku senyum terindah senja itu. 
Aku tertawa kecil mendengarnya dan kau menggeleng cepat. “Aku tidak bohong.“
 aku tertawa lagi. “Yang bilang kamu bohong siapa, Sugar?” 
“Itu kau tertawa, seolah tak percaya.” 
Aku mendekat, mendaratkan sebuah ciuman di pipimu. Kau terdiam. “Nah, itu selalu menjadi cara terbaik mengakhiri setiap argumen-argumen kita, Sugar.” Aku pun melangkah meninggalkanmu. Kau berekspresi pura-pura marah, memegang pipimu lalu tertawa.
Sugar. Gula, kan? Manis. Itulah kamu. Selalu manis. Bukan hanya karena kamu pandai sekali membuat puisi. Bukan pula hanya karena kamu lelaki yang pernah memberi aku bunga. Tapi kamu adalah lelaki yang memberiku sebuah mimpi kecil setiap pagi, sehingga aku selalu terbangun dengan harapan-harapan baru. Menantikan pagi di penghujung malam. Kamu adalah salah satu alasan aku terbangun di setiap pagi.
“Hey, bengong.“ Kau membuyarkan lamunanku. Menyentuh lenganku pelan. 
“Kamu tahu, Sugar.  Aku sudah memimpikan piknik ini sejak seratus tahun yang lalu. Dan kamu, berusaha mewujudkannya. Dan tadaaaaa. It happens! Kamu memiliki andil yang sangat besar dalam membuat peri malang ini sangat bahagia, karena salah satu mimpinya terwujud.”
 “Heh? Seratus tahun yang lalu?”
“Gak boleh protes, inget?”
“Hahaha. Aku inget, sayang. INFJ.”
Aku memukul bahumu. Kau tertawa, melingkarkan tanganmu di pinggangku. Wajah kita berjarak amat dekat sekali sekarang. Aku menunduk. Kau mencium kepalaku lembut. Lembut sekali. 
***
            Senja itu langit biru. Semburat sinar matahari yang bersiap beranjak pergi terlihat sangat indah. Kita berbaring bersisian di hamparan Bukit Kecil. Memandang langit dalam diam. Buku-buku dan beberapa macam makanan kecil berserakan.
            “Sugar…”
            “Iya, Sayang.”
      “Aku mau membacakan kamu sesuatu.” Aku bangun. Mengambil sebuah buku. Membuka halamannnya dan mebaca pelan sebuah petikan cerita yang sangat indah.
           “Kamu dengar baik-baik ya, Sugar.” Kau mengangguk dan tanganmu membelai lembut ujung-ujung rambutku. Aku pun mulai membaca perlahan.
“Aku sampai di bagian bahwa aku jatuh cinta. Namun, orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggunggnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.”
“Bagus, kan?”
“Iya, bagus sayang.”
“Itu tentang kamu, Itu juga tentang aku. Kita berjarak, kita tak sanggup saling memiliki utuh. Tapi aku tak akan pernah bertanya pada Tuhan mengapa. Karena bukan tanpa alasan pula Tuhan mempertemukan kita. Suatu hari nanti mungkin kita akan mengerti.”
“Dengar. Aku…”
 “Shhh..” Jariku menyentuh bibirmu.
       “Sugar, cukup untuk argumen-argumen kita kali ini. Aku…aku hanya ingin menyelesaikan senja yang indah ini dengan satu penutup yang aku rasa kau pun suka.”
            “Oya? Apa itu sayang?” matamu berbinar-binar.
             “Sebelum sunset nanti, kau memberikan sebuah pelukan. Pelukan yang tak akan kau lepaskan selama kita masih melihat matahari disini, lalu saat sunset, kau memberikan sebuah ciuman. Ciuman yang tak akan kau lepaskan selama sunset, 47 detik, Sugar.”
            “Hei. Aku bisa memberikan ciuman lebih dari 47 detik, sayang.”
            “Aku tahu. Tapi mungkin tidak disini.”
            “Dimana?”
            “Bukan di Bukit Kecil ini, Sugar.”
            “Lalu dimana, Sayang.”
            “Setidaknya, kita tak beralaskan rerumputan ini. Sesuatu yang lebih empuk mungkin ide bagus.”
            “Aku tahu.”
            “Ya, tepat sekali. Feeling kamu selalu benar untuk urusan itu, Kau tahu itu, Sugar?”
            “Jadi, kita tunggu apa lagi?.
       “Hey. Sabar. Kita masih harus menyelesaikan senja ini. Menunggu sunset. Sebuah pelukan dan ciuman 47 detik itu.”
            Kau merangkul bahuku. Dan aku menyelusupkan kepalaku ke dadamu. Senja itu indah sekali. Suatu senja di Bukit Kecil.

Bandung, 13 Juli 2013
Jam 10 malem. 
Beberapa jam setelah tarawih :D 
*gak pake geblek tapi