Minggu, 16 Oktober 2016
Rabu, 22 Juni 2016
Poor Kabayan.
#30harimenulis 2016
Tema hari ke-23: menulis cerita komedi/ action
Tau dong kisah-kasih Kabayan dan Iteung?
Kemaren, Kabayan curhat ke saya, kalau dia lagi bingung. Karena kekasih belahan jiwanya, Iteung, berubah drastis.
"Ada apa dengan si Cinta yah?"
begitu pertanyaan yang dia lontarkan pada saya. Ingin rasanya kubilang: "Meneketehe." Tapi kok rasanya seperti manusia tanpa kepala. Eh tanpa perasaan.
Lalu seperti konselor-konselor profesional, saya mendengarkan curhatnya dengan penuh perhatian. Ditambah menggali-gali perasaan terdalam Kabayan secara mendalam. Biar Kabayan lega.
"Pokoknya berubah pisan (=sangat) lah. Biasanya suka nganterin nasi rantang kalau saya di sawah, ini engga ada."
Saya manggut-manggut. Kabayan melanjutkan.
"Tiba-tiba iteung bilang mau cancel nikah. Saya frustasi, Nay. Ingin rasanya saya bunuh kucing tetangga saya saja. Da bunuh diri mah dosa besar yang gak diampuni."
Saya masih manggut-mamggut dan pengen nanya juga sih: "Menurut lo, emang bunuh binatang gak dosa?" Tapi saya urungkan karena takut kabayan nambah pikirannya. Nanti aja kalau dia udah tenang, saya pasti bilang kalau bunuh binatang juga dosa tau.
Tiba-tiba kabayan sesegukan nangis. Ah pria manapun kalau lagi rapuh mah ya sama aja yah. Mukanya keliatan lebih jelek, gitu. Aura kharisma kabayan yang biasanya waw, ini melempem seperti anak ayam kehilangan induknya.
"Tapi iteung mau jadi nikahnya kalau saya jual tanah warisan." Ucap kabayan lirih. Lemes. Down.
"APAAA? kok Iteung jadi matre? bukannya Iteung pernah bilang kalau cintanya sama kamu bisa ngalahin apapun. Termasuk ngalahin abahnya yang suka jodohin dia sama horangkayah." Saya keceplosan. Gatel untuk enggak komentar.
"Huwaaaaa." Si kabayan mewek nya makin kenceng deh. Aduh salah gue.
"Menangislah kalau itu menenangkanmu, Kab." Kata aku sok bijak. Terus aku lanjutin menggali-gali biar Kabayan makin all out.
"Dia cerita gak, buat apa sih uangnya kalau kamu udah jual tanah warisan itu?"
Kabayan ngangguk.
"Iteung pengen beli hp termahal yg bisa fotonya jadi cembung-cembung gituh siga lauk (=kayak ikan)."
"Trus iteung pengen nikah pesta kebun biar bisa posting di instagram dan di likes ribuan orang."
"Iteung pengen oplas jadi nambah cantik biar followernya juga nambah banyak."
"Iteung pengen selalu check-in di akun path. Check-in di cafe-cafe ngehitz dan moto secangkir kopi biar kekinian."
jawab kabayan masih sambil sesegukan.
What the h***?????? Demi Einstein yang kinerja otak kanan dan kirinya amat seimbang ngalahin harmonisasi musik klasik, demi Afgan yang katanya jadian sama Rossa.
It's so UNBELIEVEABLE! Seorang Iteung yang saya kagumi kepolosannya bisa berubah 180°?
hmmm. Okay. People change, don't they?
Lagi sibuk menata diri mendengar hal miris ini, Kabayan bertanya dengan sangat innocent.
"Oh iya. Oplas teh apa, Nay?"
Duenggggg. Poor Kabayan.
"Operasi plastik, Kab." Kata saya sok-cool. Atulah si Iteung pengen di oplas segala.
"Naonna nu di operasi (=apanya yang dioperasi?). Kabayan terlonjak dari tempat duduknya kayak di film-film komedi.
"Ya mukanya mungkin. Biar kayak artis korea mungkiiiiin." Ujarku gemas.
"IH. PAKAI PLASTIK? SIGA (=kayak) EMBER ATUH?" Itu pertanyaan terakhir dari kabayan untuk hari ini. Dan lalu kabayan pingsan seketika.
***
Dan pagi ini kudengar kabar bahwa kabayan lebih milih untuk membatalkan rencana pernikahannya daripada nikah tapi bukan dengan iteung yang dulu lagi.
Dan sms pagi ini dari kabayan:
"Teu jadi ah nikahna (=gajadi ah nikahnya) Soalnya sayah gak suka berfoto selpi. Iteung lieur (=pusing sm iteung), dikit-dikit nyelpi.
Saya bilang gini ke dia. Jig (=sana) ajah kamu minta dinikahin sama Ridwan Kamil misalnya. Dia kan hobi nyelpih."
WOW. Tindakan yang prinsipil.
Lalu saya balas.
"Ya uda kalau itu keputusan kamu, Kab. Aku dukung. Tenang lah masih banyak yang lebih baik dari Iteung :)" #klise
Lalu dia balas
"Kamu mau gak sama si Kabayan ini, Nay?"
&$&/*^% £=€_$€$_÷_##
Sekian.
Pesan moral:
hati2 kalau dicurhatin lawan jenis.
Selasa, 21 Juni 2016
Rumor? Iyuh.
#30harimenulis 2016
Tema hari ke-24: hal yang kamu benci
Ini nih yang belum apa-apa udah nyesek aja bawaannya. Benci sama hal-hal yang berbau rumor.
Sebelumnya, saya mohon maaf kalau ada pihak yang tersinggung. Tanpa bermaksud me-generalisir satu profesi tertentu. Hapunten sadaya kalepatan ah.
Saya bukan orang dengan latar belakang komunikasi. Ini murni opini saya dalam menyikapi satu kisah yang tentu saja berhubungan dangan wartawan.
Wartawan itu apa sih? Orang yang mewartakan sesuatu kan? Yang memberitakan satu kejadian pada khalayak. Sebagai profesi tentu ada kode etiknya. Dan lagi, saya gak paham tentang ini.
Namun tahukah sekarang, jaman media sosial dengan mudahnya diakses, semua orang tiba-tiba jadi wartawan tanpa ilmu. Tinggal klik "share" menyebarlah satu berita yang kadang kita sendiri belum tahu kebenarannya seperti apa.
Itu menyebalkan, tau.
Dan hati saya tambah tersayat-sayat membaca postingan seorang ibu yang setelah kehilangan anaknya, sangat amat dirugikan dengan pemberitaan share seenak udel itu. Berita yang gak bener dan sangat penuh penghakiman tanpa ada konfirmasi akurat dari narasumber. I really hate that.
Bisa yah mengangkat berita hanya berdasarkan opini pribadi dengan label wartawan a, wartawan b? Lalu ada hati yang diremukkan di satu tempat karena pemberitaan tersebut TIDAK BENAR! Opini publik kadungb terbentuk karena pemberitaan tak bertanggungjawab itu. Lagi, saya harus mengatakan, I really hate it.
Pernah denger suatu ceramah di salah satu stasiun televisi tentang mengapa begitu cepatnya berita buruk tersebar. Tahu kenapa? Karena berita buruk punya banyak "PR, Humas dan wartawan"yang banyak. Amat banyak. Siapa? Setan.
Iya, setan pesta dong saat tahu kita terbujuk rayuannya untuk menyebarkan berita yang masih abu-abu.
Please be wise untuk share hal-hal yang masih belum pasti. Biasakan dengan prinsip 'cutau' alias cukup tahu. Enggak usah repot-repot bilang-bilang kalau kita aja masih gak yakin.
Dan hati-hati menonton berita karena banyak pake bahasa provokatif. Menggiring opini.
Udalah sekarang kalau bukan narsum nya langsung yang lagi ngomong live, gak usah terlalu dipercaya. Abaikan.
Matikan TV lalu keluar rumah deh cari angin segar. Waktu terlalu berharga hanya untuk dipakai dengerin sesuatu yang kebenarannya belum tentu benar.
Senin, 20 Juni 2016
Si yummy dari Medan
#30harimenulis 2016
tema hari ke-21: Yang paling menarik dari sukumu.
Ada 'darah' Medan yang ikut nimbrung dari Opa saya. Pengen bahas itu aja. Dan btw, saya belum pernah ke Medan. Dan suatu hari nanti ingin mengunjungi tempat dimana lelaki yang amat saya kagumi itu tumbuh.
Medan itu pasti identik dengan suku batak. Coba buka lagi RPUL nya. Jiaahhh yang gak tau RPUL berarti engga ngerasain hits-hits di taun 90-an.
Medan itu gak selalu harus orang batak loh. Medan itu bisa melayu. Dan Opa saya yang melayu-nya kebetulan.
Mau cerita tentang makanannya aja boleh yah. Menurut asumsi ngasal saya, 90% orang melayu asal Medan suka sama duren. Buah yang mempunyai wangi tajam ini sangat banyak di Medan.
Mungkin ada yang enggak suka sama duren. enggak apa-apa juga. Tapi bagi kamu-kamu penyuka duren, belum sah suka nya kalau belum nyobain dodol duren Medan. Ih nikmat apalagi di kombinasikan dengan teh pahit.
Selain dodol, Medan punya makanan khas lainnya yang pasti banget ada di hari-hari besar, seperti lebaran. Makanan itu adalah kolak duren. Saya enggak tahu apa orang Melayu semua mengenal makanan ini? atau hanya beberapa gelintir saja? Entah. Yang jelas, kolak duren masuk budaya opa saya. hehe.
Nah jangan tanya gimana bikinnya karena saya seringnya kebetulan lagi enggak dirumah waktu mama masak itu :p eh udah tiba-tiba jadi aja.
Rasanya? yang jelas ya seperti berada di atmosfer lain pokoknya. Kolak duren dinikmati bareng ketan. Ketan nya disiram sama kuah kolak yang duren nya guguruntulan (=apa ya istilah bahasa Indonesia yang pas?) Sensasi kuah kolak yang kental menggelitik lidah dan memanjakan para penyuka duren. So delicious.
Kata mamah dirumahnya dulu, kalau gak ada kolak duren berarti bukan hari istimewa. Dan saya masih punya tanggungjawab moral belajar bikin kolak ini. Soalnya kalau mamah gak menurunkan resep dan cara bikinnya, bisa punah nih makanan khas nusantara ini. Gawat.
Kalau mudik ke Surabaya dulu (Oma-opa nikah dan lama tinggal di Surabaya), sehari sebelum lebaran, wangi kolak ini udah nempel-nempel di penjuru rumah. Opa bilang, cuma kolak ini yang bisa mengobati rasa kangen sama kampung dan masa kecilnya dulu.
Jadi kepikiran: harus menyelamatkan kenangan dari Opa. My root. The heritage. Sepertinya saya kudu belajar bikin kolak duren sekarang juga!
Humaira
#30harimenulis 2016
tema hari ke 22: Tulislah mengenai tokoh terkenal yang kamu kagumi.
"Menjadi seorang perempuan itu artinya berlatih kesabaran. Menjadi seorang perempuan adalah menenun tali hitam dan tali putih yang terikat pada malam dan pagi. Kewanitaan merupakan seni penciptaan."
(Aisyah, dalam Novel Aisyah oleh Sibel Eraslan)
Namanya Siti Aisyah binti Abu Bakar. Dia wanita yang pernah hadir di mimpi Rasulullah (apa rasanya yah hadir di mimpi manusia paling mulia di langit dan di bumi?) Sehingga Rasul pun menikahi Aisyah atas petunjuk Allah SWT.
Mengapa saya mengagumi beliau? karena ia sosok wanita cerdas. Entah apa jadinya jika Rasul tidak menikahi beliau karena lewat Aisyah-lah kita dapat mengetahui sekitar 2200 hadits. Luar biasa, bukan?
Beliau penyuka puisi dan sangat besar rasa keingintahuannya. Dengan usia yang sangat muda, Aisyah kecil sudah pandai banyak hal. Itu karena ia terlahir dari keluarga yang dididik untuk belajar, membaca, menghafal, menulis, menghitung, pengetahuan sejarah dan mengetahui adab berbicara sopan santun.
Rasul bahkan menyarankan kepada para sahabat khususnya para wanita untuk bertanya dan belajar darinya. Bertanya secara rinci sampai benar-benar paham merupakan sifatnya.
Hingga orang-orang bertanya padanya darimana Aisyah mendapatkan ilmu sebanyak itu? Dan jawabannya sangat indah: "Yang bertanya adalah bahasa dan yang memahami adalah hati."
Aisyah itu merupakan tokoh lambang ilmu pengetahuan.
Selain cerdas, Aisyah merupakan sosok yang bijaksana. Saat rombongan dari Umar meminta ijin untuk memakamkan jasad Umar disamping Rasul, Aisyah mengijinkan. Walau dengan begitu berarti ia tidak bisa dimakamkan di samping dua lelaki yang amat dicintainya Rasulullah dan Abu Bakar, ayahnya.
Beberapa ayat turun karena kemuliaannya. Bahkan ayat tentang tayamum turun saat semua orang mencari kalungnya yang hilang. Betapa Allah sangat memuliakannya. Dan Aisyah RA adalah perempuan yang mendapat salam dari malaikat Jibril :')
Selasa, 14 Juni 2016
Aku begini, kamu gimana?
#30harimenulis 2016
Tema hari ke 15
15 Juni - Menulislah tentang apa yang menjadi landasan hidupmu, agama, prinsip keadilan, kemanusiaan atau apapun. Silakan menulis dengan bebas namun tetap santun (no SARA).
Waw ini sih tentang konsep hidup. Dan setiap manusia yang berpikir memang harus lah punya standar dan nilai.
Katanya eh katanya, cuma ikan mati yang go with the flow. Ungkapan ini ada benarnya, kita pasrah setelah merancang dan berusaha yang terbaik yes. Bukan belum apa-apa ikut arus aja. Itu sih saya. Kalau kamu beda, it's okay koo.
Standar dan nilai yang saya pegang itu banyak yang terispirasi dari Abraham Maslow's charactheristics Self-Actualizing People.
Standar dan nilai ini bisa keep me on the track. Terus on the track supaya tujuan alias visi misi hidup tercapai. Tsaaaaaah.
Mari kita buat sederhana. Standar dan nilai hidup yang sudah saya konsep dan 'anut' beberapa tahun terakhir ini.
1. Biasakan bilang 3 magic words:
maaf, terimakasih dan tolong. Manner is everything atulah.
2. AVOID: gossip, menghakimi orang dan terlalu banyak nonton acara TV lokal yang... (isi sendiri titik2 nya :D)
3. Untuk urusan kebersihan rumah saya agak saklek dan galak. Hahaha.
4. Be punctual.
Si saya amat sangat jarang ngaret. Enggak lah. Saya juga kan enggak suka kalau janjian sama orang dan dia lebihnya 55 menit, misalnya. Apalagi si dia kalau pas datang2 tanpa say sorry. Huft.
5. Boleh banget belanjakan uang freely untuk 3 items ini aja: pengalaman, skill dan ilmu. Kalau yang lain2 harus pake acara nabung or pertimbangannya agak alot. Hahaha.
6. Jangan motong pembicaraan orang. Ini kadang yg agak-agak terlupakan bagi sebagian orang. Tapi ini mah buat saya basic nya the art of listening.
7. Yang ini lagi belajar terus. Belum mastering: accepting others as they are and not trying to change people.
Ya sapa juga saya kalau semua orang harus punya standar yang sama dengan saya? Saya gak tau kan detail hal apa saja yg pernah terjadi dalam hidup orang lain.
8. Comfortable with myself. Minimal saya selalu merapalkan mantra ini kalau lagi feel bad: "Sometimes, it's okay not to be okay, Nay. Senyumin ajah."
9. Last but not least, (always) upgrade myself with books. Buat saya, baca itu seperti saya butuh tidur atau makan. Essential!
Makasih buat admin ngasi tema ini. Kan jadinya saya tulis sebagai pengingat diri saya untuk terus bisa saya lakuin. Hihiwww.
Minggu, 12 Juni 2016
Unfinished story
#30harimenulis 2016
Tema hari ke-13: cerita horor
Ini hari ketiga dari kegiatan KKL-ku di Bali. KKL yang lebih mirip study tour. Pada KKL ini mahasiswa mengunjungi beberapa tempat wisata dan di perjalanan mempraktekan menjadi tour guide.
Kami menginap di penginapan daerah Nusa Dua. Sepertinya penginapan yang cukup luas ini hanya beroperasi jika ada rombongan.
Penginapan terdiri dari dua bagian. Bagian utara ditempati oleh para mahasiswa dan dosen pria, bagian selatan oleh para mahasiswi dan dosen wanita. Ditengah-tengahnya dibatasi oleh restaurant dan kolam renang. Serta ada dua pohon beringin besar yang bersarung.
Setiap malam, kami berkelompok (ber-empat, satu kamar terdiri dari empat orang) mengerjakan laporan harian yabg harus dikumpulkan esok paginya. Kami bahkan sering bergadang hingga pukul dua mengerjakan laporan. Boro-boro bisa menikmati suasana Bali yang kata orang eksotik.
Aku sekamar dengan Rosma, Puspa dan Tuge (yang memang asalnya dari Bali). Malam itu kondisi kami sudah cukup letih. Beberapa hari ini jadwal cukup padat dan energi badan amat terkuras.
Malam itu sekitar pukul sebelas, seperti biasa kami mengerjakan laporan. Rosma yang sedang di kamar mandi tiba-tiba berteriak.
"WOOI enggak lucu. Jangan maenin lampu."
Aku, Puspa dan Tuge yang sedang berkumpul memelototi laptop diatas kasur sontak saling berpandangan.
"PUSPA! Jangan bercanda ah." teriak Rosma lagi.
Belum sempat kami mengatakan apa-apa Rosma sudah keluar dari kamar mandi. Berlari. Masih menggunakan handuk.
"HUUUAAAAAA.." Ia menubruk kami diatas kasur.
"Ma, kenapa?" Tanyaku cemas
Muka Rosma pucat. Tiba-tiba ia menangis.
"Taa..kuut.."
"Tenang Ma, tenang." Ucap Tuge.
"Taa..di.. lampu kamar mandi mati-nyala-mati-nyala. Terus.. a..ku.. dengar suara Puspa menangis pelan. Terus... aku mencium wangi bunga yang menyengat."
Muka Puspa memucat.
"Ayok pindah kamar." Kata Rosma lagi.
"Mau pindah kemana? Tenang Ma. Tenang. Bu Iim bilang kita jangan panik. Kita enggak boleh heboh kalau ada kejadian ganjil. Nanti yang lain sugesti." Ucap Tuge menenangkan.
"Ya terusss? Telepon bu Iim sekarang! Takut guwe!" Rosma mulai histeris dan menangis lagi.
"Lagian.. kamu ngapain sih Ma, mandi malem-malem? Bu Iim cuek gitu pasti nanti dia cuma bilang; berdoa aja." Puspa sedikit nyolot.
Rosma hanya menangis.
"Ini kenapa jadi pada ribut? Udah. Udah kita tidur aja. Banyak berdoa." Kataku.
Rosma dan Puspa memutuskan minum antimo biar cepat terlelap. Kami urung meneruskan membuat laporan. Karena semua lampu kami nyalakan, aku susah tidur. Aku tidur terbiasa gelap.
Tiba-tiba, dari arah kamar mandi aku mendengar suara shower menyala. Lalu sayup-sayup mendengar suara wanita berdendang lirih. Entah bahasa jawa. Entah bahasa Bali. Bernyanyi tercekat pedih. Aku menelan ludah. Melirik Tuge disamping. Ia belum tidur.
"Aku juga denger." Wajahnya sedikit pucat.
Aku menelungkupkan bantal ke mukaku. Berharap pagi datang lebih cepat.
"Aku mau minum antimo, Ge. Kamu mau?"
Tuge mengangguk pelan.
***
Keesokan harinya kami memutuskan merahasiakan kejadian semalam pada siapapun. Kami diomelin dosen pembimbing kelompok karena tidak menyelesaikan laporan.
Hari itu kami akan mengunjungi istana bekas peninggalan kerajaan Klungkung. Siang yang terik. Mahasiswa berpencar mencari data untuk laporan. Aku menyeret langkahku. Sejak kejadian semalam, badanku berat. Tuge disebalahku sedang menulis beberapa catatan di notes.
"Kenapa Nay?" Aku menggeleng.
"Ke museum nya yuk." Tuge menyambar tanganku setengah menyeret. Rosma dan Puspa mengikuti dari belakang. Saat akan memasuki ruangan museum, Tuge berhenti beberapa detik lalu mengucapkan salam dalam bahasa agamanya.
"Om swastiastu."
Saat memasuki ruangan yang luas, suasana dan aura dingin menyergap kami. Aku memegang tengkukku. Kami berjalan beriringan. Tampak foto-foto anggota kerajaan Klungkung sejak pertama didirikan. Ada satu foto yang menarik perhatianku. Kubaca keterangan foto dibawahnya.
Aku melirik sekali lagi foto tersebut. Seperti familiar dengan wajahnya. Seperti pernah melihat tapi dimana ya.
Tuge menyadarkan lamunanku.
"Yuk, Nay."
***
Malam kelima kami lebih siaga. Jangan ke kamar mandi lebih dari jam 10. Kalau ada yang ingin kebelet pipis, pintu kamar mandi dibuka. Semua lampu dinyalakan.
Kami masih mengerjakan laporan. Jam menunjukkan pukul 00.15. Tiba-tiba wangi bunga menggelitik hidungku. Aku terkesiap. Aku mencermati wajah teman-temanku satu-satu. Mereka tampak asyik menulis. Rupanya cuma aku saja yang mencium aroma bunga ini.
Eh. Eh Siapa itu? Ada bayangan di cermin. Wanita dengan rambut sepinggang. Ada bunga kamboja terselip ditelinganya. Aku menelan ludah. Cuma aku yang melihatnya. Bibirku seperti terkatup. Dan ia melihat ke arahku.
Tubuhku menggigil. Dingin tiba-tiba menyergap.
"Kamu mau apa?" Ucapku lantang tiba-tiba. Entah kenapa aku ingat kakekku yang pernah bilang untuk tidak takut pada mereka. Mereka sama seperti kita. Hanya berbeda alam.
Sontak Rosma, Puspa dan Tuge terlonjak kaget.
Aku masih menatapnya. Dia tersenyum.
"Kamu mirip anakku. Sini ikut aku."
Seketika ruangan gelap gulita.
***
Thirty
#30harimenulis 2016
Tema hari ke-12: usia terbaik
Tema ini cukup membuat saya merenung lama. Tiba-tiba seperti memutar film dimana saya menjadi pemeran utamanya. Hadoh ko mendadak serius sekali ya?
Usia 30.
Mungkin bisa saya katakan titik balik saya sebagai manusia. Walaupun hingga sekarang saya masih melakukan beberapa kesalahan yang enggak perlu *hiks* tapi saya sudah yakin mau diapain hidup saya.
Tahun lalu.
Tahun dimana saat saya membuat resolusi tahunan dan bertepatan dengan ulang tahun saya ke-30 yang jatuh pada bulan Januari. Resolusi utamanya adalah:
"Ingin terus (menyibukkan diri) tumbuh ke mana saja asal ke arah yang Allah suka."
Dan tahukah, setelah saya merapalkan resolusi nan mulia itu, ada beberapa tantangan yang Dia berikan. Sepertinya mengetes kesungguhan resolusi tersebut. Sungguh ketika kita berusaha ingin baik, ujian pasti akan datang. (QS 29:2)
Ujiannya apa? Banyak.
Jadi sekarang, ketika bercermin ke tahun lalu, saya merasa mendapat kesempatan kedua.
Bersyukur.
Bersyukur.
Bersyukur.
Jumat, 10 Juni 2016
Fa Mulan bukan Mulan Kwok!
![]() | |
| mungkin ini bisa menjelaskan segalanya :) |
Yang terakhirr
kind and work for peace. *uhuk. Yang kind-thing
mah harus di cek dan ricek ke orang lain atuh. Is Naya kind? Kalau work peace,
iyah banget. Saya usahain banget lah buat enggak rusuh sama siapapun. Ngalah terus
maksudnya? Mungkin iyah, mungkin enggak. Saya tipikal kalau ada yang enggak
enak mending diskusi aja. Duduk bareng. Daripada memendam atau berprasangka.I love finding balance and harmony tipenya.



